Jumat, 04 Mei 2012

Proses Perbanyakan Tanaman dengan Teknik Kultur Jaringan

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:

1) Pembuatan media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.

2) Untuk pengambilan eksplan, bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.

3) Lakukan sterilisasi yaitu segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Peralatan juga harus disterilkan dengan menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatann.

4) Perbanyakan calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.

5) Pengamatan pada fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

6) Pemindahan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan menggunakan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sungkup dilepaskan secara bertahap, selanjutnya pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan pada bibit generatif.

materi referensi:

Rabu, 02 Mei 2012

Kultur Jaringan Pisang

 

PADA umumnya pisang diperbanyak dengan anakan dan Bid (potongan bonggol). Namunakhir-akhir ini pisang telah dapat diperbanyak melalui teknik kultur jaringan. Keuntunganperbanyakan bibit pisang melalui kultur jaringan antara lain bibit yang dihasilkan seragam,bibit bebas hama dan penyakit, dapat dihasilkan jumlah banyak dalam waktu lebih singkat,tanaman asal kultur jaringan berbuah lebih awal pengiriman bibit lebih muda, dapat dikirim jarak jauh dengan volume yang relatif kecil.
Proses Pembuatan Bibit
Pengambilan eksplan (bahan tanam). Eksplan diambil dari kebun induk yang telah diketahui jenisnya. Syarat sebagai tanaman induk adalah produksi tinggi dengan telah diketahuibuahnya, tanaman sehat atau tidak terserang hama/penyakit. Sehingga tanaman pisangdapat mengasilkan produksi yang optimal.Pengambilan eksplan dapat dilakukan dengan anakan diambil/dipisahkan dari induknya yangmengikuti sertakan bonggolnya. Setelah diambil, kemudian dipotong dan dibawa kelaboratorium.Eksplan dipotong kemudian dikupas dan disisakan di sekitar titik tumbuh sebesar ibu jari,potongan eksplan dicuci sampai bersih, direndam dalam larutan sterilan, dibilas denganakuades, lalu ditanam dalam media kultur.Untuk memperbanyak bibit dapat dilakukan dengan proses perbanyakan bibit di laboratoriumyang meliputi, induksi yaitu proses merangsang tumbuhnya tunas dari eksplan, reproduksiyaitu proses perbanyakan dari tunas yang terbentuk pada proses induksi dan pengakaranyaitu proses untuk menumbuhkan akar dari tunas hasil reproduksiMelalui ketiga proses tersebut akhirnya dihasilkan bibit kecil (planlet berukuran tinggi 5 cm).Proses induksi. Reproduksi, dan pengakaran dikerjakan di ruang steril dengan media padatdan cair.
Proses Penyesuaian Dengan Lingkungan
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian dengan lingkungan baru di luar laboratorium. Caranyasebagai berikut, siapkan bedengan dibawah naungan dengan intensitas penyinaran 30 %,media tanam terdiri dari campuran tanah, pasir, pupuk kandang halus (1:1:1). Taburkanfuradan 3 G 20 g/m2 Kemudian disiram sampai basah. Planlet ditanam dengan jarak 4 x 5 cm.Setelah itu disiram dan dipupuk dengan pupuk daun Gandasil D (konsentrasi 1,5 g/liter air).Bedengan disungkup dengan lembaran plastik tembus cahaya. Penyiraman dilakukan setiaphari. Penyegahan hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan Decis 1,5 ml/l danBenlate 1 g/l setiap 5 hari sekali. Pemupukan menggunakan Gandasil D diberikan bersamaandengan pengendalian hama dan penyakit lamanya aklimatisasi berkisar 20 - 45 haritergantung besar kecilnya planlet.
Pembibitan
Bibit yang telah berukuran tinggi 10 cm siap dipindahkan ke polibag. Untuk pembibitan dapatdigunakan polibag ukuran 12 x 18 cm dengan media campuran tanah, pupuk kandang, danpasir (1:1:1). Bibit dalam polibag disusun dibawah naungan dengan intensitas penyinaran 40-50%. Pemeliharaan bibit meliputi menyiram, memupuk, menyiang, dan mengendalikan hamadan penyakit pemupukan berupa larutan urea 0,1 % (1gr/liter) diberikan setiap 5 hari sekali.bibit siap ditanam apabila telah mencapai tinggi 15-20 cm dengan jumlah daun 5 helai

Cara Membuat Media Kultur Jaringan Tanaman


Untuk membuat media kultur jaringan, biasanya menimbang setiap komponen bahan kimia yang terdapat pada resep media dasar. Pembuatan media pada prinsipnya juga dilakukan dengan melarutkan semua komponen media dalam air, sesuai dengan konsentrasinya pada formulasi yang diinginkan. Namun, penimbangan satu per satu komponen media untuk setiap pembuatan media kultur adalah tidak praktis, dan hanya dapat dilakukan jika jumlah zatnya cukup besar untuk ditimbang. Selain itu akan memakan banyak waktu dan mengurangi ketepatan. Kadang-kadang pula timbangan yang dibutuhkan untuk menimbang sejumlah kecil bahan tidak tersedia dalam laboratorium. Kendala ini dapat diatasi dengan membuat larutan stok terlebih dahulu.
Larutan stok adalah larutan yang berisi satu atau labih komponen media yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi komponen tersebut dalam formulasi media yang akan dibuat. Larutan stok dalam media kultur jaringan dikelompokkan dalam: stok makro, stok mikro, stok Fe, stok vitamin dan stok hormon. Larutan stok bisa dibuat dengan konsentrasi 10, 100, atau bahkan 1000 kali lebih pekat. Larutan stok sebaiknya disimpan dalam ruang gelap dan bersuhu rendah, karena ada beberapa bahan yang tidak tahan suhu tinggi dan cahaya. Stok vitamin tidak dapat dismpan terlalu lama, bisa dibuat untuk digunakan dalam 1 – 2 minggu. Stok hormon dapat disimpan antara 2 – 4 minggu, sedangkan stok hara dapat disimpan 4 – 3 minggu. Larutan stok yang sudah tersimpan lama biasanya mengendap dan ditumbuhi mikroorganisme. Larutan yang sudah terkontaminasi mikroorganisme ini sudah tidak dapat digunakan lagi. Oleh sebab itu kondisi tempat simpan dan wadah larutan harus diusahakan sesteril mungkin. Dengan adanya larutan stok, pembuatan media selanjutnya dilakukan hanya dengan teknik pengenceran dan pencampuran saja.
Jika seluruh larutan stok yang dibutuhkan sudah dibuat, gula dan pemadat medianya ditimbang sesuai kebutuhan, seteleh itu kita dapat meracik dan membuat media.
Sebelum membuat tentunya kita harus mempersiapkan Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
  1. Menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan digunakan, yaitu : a) Alat : timbangan analitik, tabung erlenmeyer, gelas ukur, glas piala, pipet, ball pipet, pengaduk kaca, stirer, kompor gas atau hot plate, pH meter atau kertas pH, botol media. b) Bahan: semua komponen media dalam bentuk larutan stok, maupun bahan yang sudah ditimbang seperti gula dan pemadat (agar), plastik tahan panas penutup botol, karet gelang, atau aluminium foil.
  2. Mencampurkan larutan stok hara makro, mikro, Fe-chelat, vitamin dan hormon sesuai kebutuhan ke dalam erlenmeyer sambil digoyangkan agar larutan dapat homogen.
  3. Menambahkan gula dalam larutan media tersebut kemudian menera larutan tersebut dengan aquades steril dengan menggunakan gelas ukur sesuai volume media yang dibutuhkan kemudian mengaduknya dengan stirer hingga semua bahan tercampur dengan sempurna
  4. Melakukan pengukuran pH. (pastikan pH meter sudah dilakibrasi terlebih dahulu). Kadar pH yang dibutukan adalah 5,8. Bila pH masih dibawah 5,8 maka perlu ditambahkan beberapa tetes NaOH atau KOH sampai mencapai kadar pH yang diinginkan ( pH 5,8). Tetapi jika kadar pH terlalu tinggi atau lebih dari 5,8 maka perlu ditambahkan beberapa tetes HCl sampai kadar pH 5,8.
  5. Memasukkan pemadat media (agar 7gr/L atau gelrite 2gr/L) ke dalam larutan media. Setelah itu media dapat langsung dipanaskan dengan menggunakan hotplate atau dipanaskan di atas kompor gas. Selama pemanasan berlangsung, hendaknya larutan media tersebut diaduk terus-menerus hinga pemadat medianya terlarut seluruhnya. Pemanasan dihentikan sampai larutan terlihat bening dan mulai terlihat gelembung-gelembung udara
  6. Setelah larut, menuangkan media tersebut ke dalam botol-botol media yang telah dipersiapkan sesuai kebutuhan tergantung besar kecilnya botol. Kemudian menutup botol yang sudah terisi media dengan menggunakan plastik tahan panas atau aluminium foil. Diusahakan supaya botol benar-benar tertutup rapat.
  7. Memasukkan botol-botol tersebut ke dalam autoclaf dan disterilisasi dengan suhu 121°C dengan tekanan 1,5 kg/cm2 selama 20-30 menit.
  8. Menyimpan media yang sudah disterilisasi di dalam ruang penyimpanan media ber-AC (suhu 24 - 26°C) selama 3 hari sebelum digunakan untuk memastikan bahwa media tersebut tidak terkontaminasi.
SELAMAT MENCOBA........
 
 
http://kultur-jaringan.blogspot.com/2009/09/cara-membuat-media-kultur-jaringan.html

PERBANYAK BIBIT PISANG SECARA KULTUR JARINGAN

PERBANYAK BIBIT PISANG SECARA KULTUR JARINGAN  
   
PENDAHULUAN
Teknik Kultur Jaringan adalah mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap
Keuntungan Kultur Jaringan adalah :
· Menghasilkan bibit dalam jumlah banyak, bermutu, seragam dalam waktu singkat
· Sifat tanaman sama dengan induknya
· Kesehatan bibit lebih terjamin
· Kecepatan tumbuh lebih cepat dibanding konvensional
Langkah-langkah dalam proses Kultur Jaringan meliputi :
· Pembuatan media
· Inisiasi
· Sterilisasi
· Multiplikasi
· Pengakaran
· Aklimatisasi
Media
Merupakan faktor penentu dalam perbanyak secara Kultur Jaringan.
Komposisi Media (MS) dalam Kultur Jaringan pisang adalah sebagai berikut :
Garam Mineral mg/l
NH4N03 1650
KN03 1900
CaCl2.2H20 440
MgS04.7H20 370
KH2P04 170
FeS04.7H20 27,8
Na2EDTA 37,3
MnS04.4H20 22,3
ZnS04.7H20 8,6
H3B03 6,2
KI 0,83
Na2Mo04.2H20 0,25
CuS04.5H20 0,025
CoC12.6H20 0,025
Vitamin mg/l
Myo-inositol 100
Pyridoxine 0,5
Niacine 0,5
Thiamine 0,1
Glycine 2,0
Hormon mg/l
BAP 5-10
NAA 0,1-0,5
Bahan tambahan : Gula 30 g/l, air kelapa 150 ml/l, agar 6,2 g/l, pH 5,6-5,8
Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan di Kultur
· Anakan
· Cuci dengan air mengalir
· Dikecilkan dengan pisau
· Dimasukan dalam media
Sterilisasi
· Sterilisasi luar :
Eksplan direndam dalam larutan Agrimycine 2 mg/l dan Benlate 2 mg/l selama 1 -24 jam
· Sterilisasi dalam Laminar Air Flow
§ Rendam eksplan dalam larutan clorox 30% selama 15 menit
§ Bilas 2 x dengan air steril
§ Kupas 1-2 pelepah
§ Rendam dalam larutan clorox 15% selama 10 menit
§ Bilas 2x dengan air steril
§ Kupas 1-2 pelepah
§ Kupas sampai sisa 3 daun pelepah ukuran 1,5 x 1,5 cm
§ Celup dalam larutan clorox 1% dan tanam di media
Lama waktu inisiasi dalam kondisi normal adala 4 minggu (minimal telah 2 x subkultur), selanjutnya masuk tahap multiplikasi
Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan pemotongan dan pemindahan eksplan ke media baru
Pengakaran
Hasil multiplikasi selanjutnya dipindah dalam media pengakaran sehingga terbentuk tanaman yang sempurna (planlet)
Media pengakaran adalah MS + 5 ppm NAA + Charcoal 1 g/l
Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses penyesuaian palnlet dari kondisi mikro dalam botol (heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof)
Pemilihan Kultur
Botol kultur dipelihara dalam ruang kultur aseptik (steril) dengan suhu 18-25 C dan intensitas cahaya 3000 - 10.000 lux selama 16 jam/hari

KULTUR JARINGAN PISANG Cavendish

Tanaman pisang mempunyai ciri spesifik yang mudah dibedakan dari jenis tanaman lainnya. Tanamannya terdiri dari daun, batang (bonggol), batang semu, bunga, dan buah. Pisang termasuk keluarga musaceae, salah satu anggota ordo scitamineae.
Morfologi tanaman dapat tampak jelas melalui batangnya yang berlapis-lapis. Lapisan ini sebenarnya merupakan dasar dari pelepah daun yang dapat menyimpan air (sukulenta) sehingga lebih tepat disebut batang semu (pseudostem). Daun pisang Cavendish berwarna hijau tua. Lembaran daun (lamina) pisang lebar dengan urat daun utama menonjol berukuran besar sebagai pengembangan dari morfologis lapisan batang semu (gedebog). Batang pisang sesungguhnya terdapat didalam tanah, yaitu yang sering disebut bonggol. Pada sepertiga bagian bonggol sebelah atas terdapat mata calon tumbuh tunas anakan. Bunga pisang yang disebut tongkol yang disebut jantung. Bunga ini muncul dari primordia yang terbentuk pada bonggolnya, perkembangan primordia bunga memanjang keatas hingga menembus inti batang semu dan keluar diujung batang semu tersebut. Panjang Tandan 60 - 100 cm dengan berat 15 - 30 kg. Setiap tandan terdiri dari 8 - 13 sisiran dan setiap sisiran ada 12 - 22 buah. Daging buah putih kekuningan, rasanya manis agak asam, dan lunak. Kulit buah agak tebal berwarna hijau kekuningan sampai kuning muda halus. Umur panen 3 - 3,5 bulan sejak keluar jantung.
Salah satu tanaman buah-buahan yang diperbanyak secara komersial dengan teknik kultur jaringan adalah pisang. Pisang biasanya diperbanyak secara vegetatif menggunakan anakan atau bonggolnya. Ukuran anakan yang cukup besar menyulitkan transportasi bibit dari satu tempat ke tempat penanamannya. Anakan yang diproduksi oleh satu induk pisang ukuran dan umurnya beragam, sehingga sangat sulit untuk memperoleh anakan berukuran seragam dalam jumlah memadai untuk perkebunan pisang secara komersial.
Perbanyakan klonal pisang dengan teknik kultur jaringan dapat mengatasi kendala-kendala tersebut. Metode dan tahapan perbanyakan yang digunakan untuk perbanyakan klonal pisang ini serupa dengan metode perbanyakan lainnya. Teknik yang umum digunakan adalah kultur meristem (meristem culture) atau kultur pucuk (shoot culture), selain itu telah dicoba juga untuk mengkulturkan tangkai bunga inflorescence muda pisang. Pisang Cavendish di Indonesia lebih dikenal dengan Pisang Ambon Putih. Perbanyakan tanaman pisang secara kultur jaringan bertujuan untuk mendapatkan bibit bermutu dalam jumlah banyak dan cepat selama kurun waktu tertentu. Ditinjau dari tujuan tersebut maka adanya bibit kultur jaringan akan mampu mendukung pengembangan kebun agribisnis dalam skala luas. Bibit pisang kultur jaringan adalah bibit yang dihasilkan melalui biakan jaringan (sel meristem) pada media buatan dalam laboratorium (in vitro).
Untuk menghasilkan bibit kultur jaringan yang bermutu, perlu didukung oleh beberapa komponen, yaitu prasarana, bahan kimia untuk pembuatan media, varietas unggul dan tenaga ahli. Prasarana berupa laboratorium yang memenuhi syarat, rumah kaca atau plastik untuk membesarkan bibit yang masih sangat kecil (plantlet), serta peralatan.
Menurut George dan Sherrington (1984) keberhasilan dalam kultur jaringan sangat ditentukan oleh medium yang digunakan. Media yang digunakan untuk perbanyakan klonal pisang ini umumnya adalah media MS. Untuk merangsang pertumbuhan tunas pada eksplan, zat pengatur tumbuh umumnya ditambahkan ke dalam media kultur. Sitokinin BAP (Benzil Amino Purin) umumnya digunakan pada kisaran konsentrasi 3 - 6 ppm tergantung varietas, dengan atau tanpa kombinasi dengan auksin. Keasaman media umumnya adalah 5,5 sampai 6. Inisiasi merupakan proses awal dalam kegiatan kultur jaringan sehingga akan menjadi penentu keberhasilan kultur. Proses pertama dalam inisiasi adalah pengambilan eksplan atau bahan kultur dari lapangan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan sterilisasi eksplan (Anonim, 2002).
Prosedur kerja inisiasi pisang : Sterilisasi di luar Laminar Air Flow Cabinet 1. Cuci dan kupas eksplan pisang di air mengalir sampai bersih 2. Rendam eksplan pisang dalam larutan fungisida dan bakterisida 2 mg/ L selama 1-24 jam Sterilisasi di dalam Laminar Air Flow Cabinet 1. Rendam dalam larutan clorox 30% selama 15 menit, bilas 2x dengan air steril dan kupas 1-2 pelepah 2. Rendam dalam larutan clorox 15% selama 10 menit, bilas 2x dengan air steril dan kupas 1-2 pelepah 3. Kupas sampai sisa 3 daun pelepah ukuran 1,5x1,5 cm 4. Celup dalam larutan clorox 1% dan tanam di media Lama waktu inisiasi dalam kondisi normal adalah 4 minggu (minimal telah 2x subkultur), selanjutnya masuk tahap multiplikasi.
Aklimatisasi dilakukan apabila tanaman telah di sub kultur sebanyak 4-5 kali. Akan tetapi, bisa saja dilakukan sebelum 12 kali sub kultur hal ini dikarenakan adanya permintaan pasar yang meningkat. Media aklimatisasi disterilisasi dengan cara pengukusan selama 6 jam, hal ini dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme yang ada pada media aklimatisasi sehingga pada saat planlet ditanam di media tersebut tidak akan terkena bakteri/ atau jamur. Selain itu juga, media disemprot terlebih dahulu dengan larutan bakterisida sehari sebelum media digunakan hal ini bertujuan untuk menghindari adanya bakteri-bakteri yang tumbuh dan berkembang pada media selama media disimpan. Aklimatisasi dilakukan selama 4 minggu di dalam sungkup untuk mendapatkan tanaman yang siap di pindah ke lapangan terbuka.
Pustaka Anonim, 2003. Berkebun Pisang Secara Intensif. Redaksi Trubus, Penebar Swadaya. Jakarta. Gunawan. L. W, 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB Bogor. Sutahu suyanti, B. Sc, 2004. Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar. Penenbar Swadaya, Jakarta.



http://kultur-jaringan.blogspot.com/2009/10/kultur-jaringan-pisang-cavendish.html

MENGENAL DAN MEMELIHARA ANGGREK Dendrobium


Nina Solvia **)
PENDAHULUAN
Indonesia yang terdiri atas pulau-pulau yang membentang di daerah khatulistiwa yang luasnya lebih dari 8.000.000 km persegi, ditumbuhi oleh lebih dari 6.000 jenis anggrek spesies dan lebih dari 200 jenis mempunyai nilai komersial. Jumlah terbanyak ialah Dendrobium yang tumbuh di daerah panas, tumbuh didaerah Indonesia Bagian Timur, dan merupakan induk induk bunga anggrek potong jenis Dendrobium. Dan sudah banyak hibrida-hibrida Dendrobium yang telah dihasilkan dan didaftarkan ke Sander List (Santoso S, 1988).
Berbagai jenis anggrek Dendrobium sangat diminati oleh masyarakat, karena menghasilkan bungan yang cantik dan warna yang menawan. Disamping itu mahkota bunganya tidak mudah rontok, dibandingkan dengan jenis anggrek lainnya
Tanaman anggrek Dendrobium bersifat kospolitan (dapat dijumpai dari daerah tropik sampai sub tropik). Penyebaran anggrek ini mulai dari daerah pantai hingga daerah pegunungan dan bersalju, yang tersebar mulai dari India, Srilangka, China Selatan, Jepang ke Selatan sampai Asia Tenggara hingga kawasan Pasifik. Australia, New Zealand serta papua New Guinea (Hawkes, 1965; Gunadi, 1979; Rentoul, 1982).
Cara hidup anggrek Dendrobium adalah menempel pada benda lain seperti batang pohon, lempengan pakis, beberapa jenis ada yang bbatu batuan di lereng pegunung, dan ada juga yang tumbuh memanjat pada batang tanaman lain tanpa merugikan tempat yang ditempeli (bersifat epifit). Sedangkan pola pertumbuhannya simpodial
Penggunaan anggrek Dendrobium selain dapat digunakan sebagai bunga potong untuk rangkaian, juga dapat digunakan sebagai bunga pot dan bunga taman untuk pembuatan landscape
anggrek_efifit.jpg
MENGENAL AGGREK DENDROBIUM
Klasifikasi 
Pada umumnya klasifikasi tanaman anggrek didasarkan pada keistimewaan bunga, khususnya alat reproduksi. Klasifikasi anggrek Dendrobium adalah sebagai berikut (Hsuang Keng, 1978; Fanfani dan Rosssi, 1989):

Kingdom         : Planthae
Divisi              : Spermatophyta
Sub Divisi       : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledonae
Ordo                : Orchidales
Famili              : Orchidaceae
Sub famili        : Epidendroidae
Suku/Tribe      : Malaxideae (Dressler & Dodson, 1960)
                          Epidendreae (Comber, 1960)
                          Dendrobieae (Chan et al., 1994)
Sub tribe          : Dendrobiinae
Genus              : Dendrobium
Species            : D. bifalce, D. macrophyllum, D. phalaenopsis dll

Genus  Dendrobium
Genus angrek Dendrobium terbagi dalam beberapa seksi dan sangat bervariasi. Menurut Holtum (1965) genus Dendrobium terbagi dalam 20 seksi yaitu: 1.  Diplocaulobium
2.  Desmotrichum
3.  Sacopodium
4.  Bolbidium
5.  Euphlebium
6.  Latourea    à bunga  besar, warna hijau/kuning hijau
7.  Callista8.  Eugenanthe
9.  Nigrohirsutae
10. Phalaenanthe  à bunga besar & bulat,  w.  putih / ungu
11. Ceratobium     à bunga bintang / keriting / tanduk ,  w. variasi
12. Stachyobium
13. Pedilonum
14. Distichophyllum
15. Rhopalanthe
16. Aporum
17. Oxystophyllum
18. Strongyle
19. Grastidium
20. Conostalix


http://spmabogor.net/website/?p=24

Keunikan dan Keindahan Tanaman Anggrek

Sejak zaman dahulu kala anggrek sudah dikenal memiliki pesona yang khas. Tanaman anggrek dipelihara dan dirawat untuk dinikmati keindahan dan keunikannya. Tak heran, anggrek adalah simbol kesempurnaan. Bahkan bintik atau motif pada bunganya pun sering memiliki arti tersendiri.
Setiap tanaman anggrek memiliki keunikan. Hal tersebut membuat banyak orang merasa tertantang untuk membudidayakan anggrek. Tidak sedikit anggrek yang menyandang nama orang yang berjasa dalam bidang peranggrekan, atau nama orang yang sangat dihormati. Anguloa, misalnya, adalah nama yang diberikan oleh penemu anggrek itu untuk menghormati Francisco de Angulo, seorang kolektor anggrek yang berjasa dalam mengembangkan ilmu tentang anggrek. Dan, Dendrobium victoria reginae, atau Dendrobium Ratu Victoria, adalah ungkapan penghormatan kepada sang ratu.
Meski menanam anggrek membutuhkan ketekunan dan rasa cinta yang lebih, banyak orang ingin membudidayakannya. Semua orang ingin memiliki anggrek dan menikmati keunikan serta keindahannya.
Uniknya, keindahan yang dinantikan oleh pencinta anggrek ini pun beragam. Pemilik tanaman anggrek tak hanya menikmati bunganya yang eksotik, atau keharumannya, banyak pemilik anggrek yang mengagumi keunikan akarnya yang menjulur, bulb yang motok dengan berbagai bentuk, bahkan tantangan dalam pembudidayaannya.
Moon’s Orchid memiliki kebun khusus untuk membudidayakan tanaman anggrek. Kami tunggu kunjungan Anda di kebun. Sampai jumpa...
Ditulis oleh: Alia Felicia ( untuk moons-orchid.com)
Foto anggrek oleh: Mazna Hashim & Alia Felicia di Kebun Anggrek Moon's Orchid Cimande, Bogor